<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Suara Sunnah</title>
	<atom:link href="http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.suarasunnah.com</link>
	<description>Web Resmi Dakwah Islam Salatiga</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 06:40:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://www.suarasunnah.com</link>
<url>http://www.suarasunnah.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/favicon-32.ico</url>
<title>Suara Sunnah</title>
</image>
		<item>
		<title>Amalan-Amalan Keliru di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=332</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=332#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 06:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Larangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan telah berlalu dengan cepatnya. Tak terasa kita sekarang sudah berada di penghujung bulan ramadhan. Semoga amal-amal ibadah yang telah kita lakukan mendapat pahala yang banyak di sisi Allah.
Pada kesempatan kali ini, kami ingin menyinggung beberapa dari kebiasaan kaum muslimin yang berhubungan dengan bulan Ramadhan, yang mungkin di antara kita ada yang belum mengetahui]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-333" title="Amalan-amalan Keliru di Bulan Ramadhan" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/08/Amalan-amalan-Keliru-di-Bulan-Ramadhan.jpg" alt="" width="150" height="150" />Bulan Ramadhan telah berlalu dengan cepatnya. Tak terasa kita sekarang sudah berada di penghujung bulan ramadhan. Semoga amal-amal ibadah yang telah kita lakukan mendapat pahala yang banyak di sisi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kesempatan kali ini, kami ingin menyinggung beberapa dari kebiasaan kaum muslimin yang berhubungan dengan bulan Ramadhan, yang mungkin di antara kita ada yang belum mengetahui jika kebiasaan-kebiasaan itu ternyata bertentangan dengan syariat agama kita yang mulia ini. Jika beberapa kebiasaan itu sudah terlanjur kita lakukan, semoga Ramadhan tahun depan kita bisa membenahi diri untuk tidak melakukannya kembali. <span id="more-332"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>3. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_0_332" id="identifier_0_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Abu Daud no. 2335, An Nasai no. 2173, Tirmidzi no. 687 dan Ahmad 2/234. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.">1</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, pen).&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_1_332" id="identifier_1_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. An Nasai no. 2188 dan Tirmidzi no. 686. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.">2</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab rahimahullah, berpuasa di akhir bulan Sya’ban ada tiga model:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, jika berniat dalam rangka berhati-hati dalam perhitungan puasa Ramadhan sehingga dia berpuasa terlebih dahulu, maka seperti ini jelas terlarang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, jika berniat untuk berpuasa nadzar atau mengqodho puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, atau membayar kafaroh (tebusan), maka mayoritas ulama membolehkannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>, jika berniat berpuasa sunnah semata, maka ulama yang mengatakan harus ada pemisah antara puasa Sya’ban dan Ramadhan melarang hal ini walaupun itu mencocoki kebiasaan dia berpuasa, di antaranya adalah Al Hasan Al Bashri. Namun yang tepat dilihat apakah puasa tersebut adalah puasa yang biasa dia lakukan ataukah tidak sebagaimana makna tekstual dari hadits. Jadi jika satu atau  dua hari sebelum Ramadhan adalah kebiasaan dia berpuasa  –seperti puasa Senin-Kamis-, maka itu dibolehkan. Namun jika tidak, itulah yang terlarang. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan Al Auza’i.<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_2_332" id="identifier_2_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Lihat Lathoif Al Ma&rsquo;arif, 257-258.">3</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>4. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin &#8230;”</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi rahimahullah  –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.&#8221;<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_3_332" id="identifier_3_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Rowdhotuth Tholibin, 1/268.">4</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>5. Membangunkan Sahur &#8230; Sahur</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahukan pada kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan sahur &#8230; sahur &#8230;. baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi  shallallahu  ‘alaihi wa sallam,  juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah,</p>
<p style="text-align: justify;">“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen),  janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_4_332" id="identifier_4_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu&rsquo;jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma&rsquo; Zawa&rsquo;id (1/181) bahwa para perowinya adalah perawi yang shohih.">5</a></sup>&#8221;<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=332#footnote_5_332" id="identifier_5_332" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Lihat pembahasan at tashiir di Al Bida&rsquo; Al Hawliyah, hal. 334-336.">6</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan ini bisa menjadi sarana saling menasihati di antara kaum  muslimin. Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah untuk mampu menerima  semua syariat-Nya yang mulia ini di dalam hati kita, dan melaksanakannya  semampu kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Panduan Ramadhan, <a href="http://rumaysho.com/" target="_blank"><em>Muhammad Abduh Tuasikal</em></a>, hal. 107-109</p>
<ol class="footnotes"><li id="footnote_0_332" class="footnote">HR. Abu Daud no. 2335, An Nasai no. 2173, Tirmidzi no. 687 dan Ahmad 2/234. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</li><li id="footnote_1_332" class="footnote">HR. An Nasai no. 2188 dan Tirmidzi no. 686. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</li><li id="footnote_2_332" class="footnote">Lihat Lathoif Al Ma’arif, 257-258.</li><li id="footnote_3_332" class="footnote">Rowdhotuth Tholibin, 1/268.</li><li id="footnote_4_332" class="footnote">Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id (1/181) bahwa para perowinya adalah perawi yang shohih.</li><li id="footnote_5_332" class="footnote">Lihat pembahasan at tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336.</li></ol>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=332</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Program Donasi Pengembangan Kualitas Siaran Radio Bahana Assunnah</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=321</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=321#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 17:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu’alaikum warahmatullohi wabarakatuh
Salam kenal dari Salatiga.
Alhamdulillah dengan ijin Allah Subhanallahu wata’ala, hari Sabtu 28  November 2009 kami bisa menyelesaikan pemasangan pemancar FM untuk radio  dakwah sunnah dilingkungan Kota Salatiga, Kab. Semarang dan sekitarnya.
Berikut detailnya :
Nama           : Radio Bahana Assunnah (Bass 98,7 FM)
Gelombang   : 98,7 FM
Lokasi           : Jl. Brigjend Sudiarto 10]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://img163.imageshack.us/img163/9163/bassdonasi.jpg" alt="" width="178" height="248" /></p>
<p>Assalamu’alaikum warahmatullohi wabarakatuh</p>
<p>Salam kenal dari Salatiga.<br />
Alhamdulillah dengan ijin Allah Subhanallahu wata’ala, hari Sabtu 28  November 2009 kami bisa menyelesaikan pemasangan pemancar FM untuk radio  dakwah sunnah dilingkungan Kota Salatiga, Kab. Semarang dan sekitarnya.<br />
Berikut detailnya :</p>
<p>Nama           : Radio Bahana Assunnah (Bass 98,7 FM)</p>
<p>Gelombang   : 98,7 FM<br />
Lokasi           : Jl. Brigjend Sudiarto 10 Salatiga (300 meter dari lap.<br />
Pancasila kearah selatan &gt; pasar sapi)<br />
Daya             : 100 Watt (upgrade bertahap)<br />
Penasihat       : Ustad. Ahmad Zaenuddin</p>
<p><span id="more-321"></span>———————————————————————–</p>
<p>Informasi<br />
Website         : www.suarasunnah.com</p>
<p>Email             : bassfm_salatiga@yahoo.com<br />
Skype            : bassfm01 (bassfm salatiga)<br />
Groups FB      : <a onclick="search_logged_ajax({&quot;init&quot;:&quot;quick&quot;,&quot;t&quot;:&quot;c:name&quot;,&quot;q&quot;:&quot;bahana,assunnah&quot;,&quot;sid&quot;:&quot;1062596295.2930921368..1&quot;,&quot;sf&quot;:&quot;i&quot;,&quot;cururl&quot;:&quot;\/search\/?post_form_id=6ec546186c73e8e4ffe3b974561bf5cc&amp;q=bahana+assunnah&amp;init=quick&amp;sid=0.9475101795512281&quot;,&quot;prev_sid&quot;:&quot;0.9475101795512281&quot;,&quot;u&quot;:&quot;http:\/\/www.facebook.com\/group.php?gid=117195538316898&amp;ref=search&quot;,&quot;utype&quot;:&quot;X&quot;,&quot;rc&quot;:1,&quot;pr&quot;:&quot;Q&quot;,&quot;cl&quot;:300,&quot;sns&quot;:0,&quot;fc&quot;:0,&quot;gc&quot;:1,&quot;is_new_user&quot;:0,&quot;locale&quot;:&quot;en_US&quot;,&quot;ab&quot;:&quot;X&quot;,&quot;id&quot;:117195538316898,&quot;rank&quot;:1,&quot;rid&quot;:0,&quot;o_type&quot;:2,&quot;is_friend&quot;:false});" href="http://www.facebook.com/group.php?gid=117195538316898&amp;ref=search">Radio Bahana Assunnah 98,7 FM Salatiga (BAss FM)</a><br />
YM                : bahanaassunnah<br />
Phone            : (0298) 7186100<br />
HP                 : 0812.2922.962 | 0813.266.392.69</p>
<p>———————————————————————–</p>
<p>Bagi kaum muhsinin yang ingin memberikan bantuan donasi dakwahnya bisa disalurkan ke :<strong> </strong></p>
<p><strong>Bank BCA Salatiga No. Rek. 0130230644 atas nama Ahmad Zainuddin</strong></p>
<p>Catatan:</p>
<p>Harap konfirmasi setelah transfer: Nama Anda, Nama Bank, Jumlah Transfer dan Tanggal Transfer.<br />
Contoh: Muhammad Amin, Mandiri, 5.000.000, 24 Agustus 2010.<strong><br />
</strong></p>
<p>Silahkan sms/ telepon:<br />
<strong>0856.4111.9490 atau 0812.2922.962</strong></p>
<p>Atau dapat di alamatkan ke:</p>
<p><strong>Radio Bahana Assunnah (Bass 98,7 FM Salatiga)</strong></p>
<p>Jl. Brigjend Sudiarto 10 Salatiga (300 meter dari lap.<br />
Pancasila kearah selatan &gt; pasar sapi)</p>
<p>Phone : (0298) 7186100</p>
<p>———————————————————————-</p>
<p>Jazaakumullohu Khoiron Katsiron<br />
Semoga Alloh membalas jasa dan kebaikan Anda sekalian lebih banyak, Aamiin..<br />
Baarokallohu Fiikum,</p>
<p><em>Tim Donasi Dakwah Radio Bahana Assunnah.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=321</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akan Datang Tamu Tercinta!</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=306</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=306#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 03:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku  muslim dan muslimah! Bagaimanakah perasaan anda jika ada seorang tamu  yang anda cintai dan rindukan memberitahu bahwa ia akan datang dan  tinggal bersama anda selama beberapa hari, apa yang akan anda lakukan?
Tidak  diragukan lagi, anda akan senang dan berbahagia kemudian anda akan  bersiap-siap menyambut kunjungan itu sedapat mungkin anda]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-308" title="Ramadhan Hampir Tiba" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/08/Ramadhan-Hampir-Tiba.jpg" alt="" width="150" height="150" />Saudaraku  muslim dan muslimah! Bagaimanakah perasaan anda jika ada seorang tamu  yang anda cintai dan rindukan memberitahu bahwa ia akan datang dan  tinggal bersama anda selama beberapa hari, apa yang akan anda lakukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak  diragukan lagi, anda akan senang dan berbahagia kemudian anda akan  bersiap-siap menyambut kunjungan itu sedapat mungkin anda akan merapikan  diri, membersihkan rumah, dan menyiapkan acara-acara yang menarik dalam  rangka kunjungan itu. Bukankah demikian? Jawabannya adalah, &#8220;Tentu!&#8221; <span id="more-306"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wahai  saudaraku, bagaimana jika tamu itu bukan saja anda cintai, akan tetapi  juga dicintai Allah, Rasul-Nya, dan seluruh kaum muslimin? Bagaimana  jika tamu ini selama tinggal bersama kita antara siang dan malamnya  membawa kebaikan dan keberkahan?</p>
<p style="text-align: justify;">Tamu  yang dimaksud itu tidak lain adalah Ramadhan, bulan yang mulia, bulan  Al-Qur&#8217;an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan  kesabaran dan takwa, bulan kasih sayang, ampunan dan terbebasnya hamba  dari api neraka, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih  baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka  ditutup dan pintu surga dibuka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan  di mana amal kebaikan dilipatgandakan dan penuh berkah dalam ketaatan,  bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang  mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin,  mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang  besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan  ruh dan jiwanya. Allah berfirman, artinya, <em>&#8220;Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.&#8221; </em>(Asy-Syam: 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum  salaf, pendahulu umat ini, telah memahami betapa tinggi nilai tamu  tersebut. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa mereka berdoa kepada Allah  agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya  dan apabila mereka mengakhirinya, mereka menangis dan berdoa kepada  Allah agar amal mereka pada bulan-bulan yang lain diterima, demikian  seperti dinukil Ibnu Rajab.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Mereka Menyambut Ramadhan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman, artinya, <em>&#8220;Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi ini niscaya mereka menyesatkan kamu dari jalan Allah.&#8221;</em> (Al-An&#8217;am: 116)</p>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku  yang mulia! Kalau kita perhatikan kondisi umat Islam, maka kita akan  mendapatkan keanekaragaman cara di kalangan umat Islam dalam menyambut  bulan Ramadhan yang rata-rata menyimpang dari apa yang disyariatkan  Allah. Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai,  lagu-lagu atau nyanyian bermusik. Di antara mereka ada yang  menyambutnya dengan mempersiapkan acara begadang disertai pemutaran  film-film atau drama yang di dalamnya terdapat <em>tabrruj</em> (pamer  aurat) dan perbuatan-perbuatan maksiat. Di antara mereka ada yang  menyambutnya dengan pertemuan-pertemuan bersama para musisi dan artis  kemudian menayangkan apa yang mereka lakukan dalam menyambut bulan  kebaikan dan berkah ini. Di antara mereka ada yng menyambutnya dengan  mempersiapkan berbagai acara lomba Ramadhan atau acara-acara lainnya  yang mengesampingkan amal-amal ketaatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal  demi Allah, seharusnya tidaklah demikian, tidaklah menyambut Ramadhan  itu dengan perbuatan maksiat, haram, dan mendurhakai semesta alam.  Benarlah sabda Rasulullah yang artinya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=306#footnote_0_306" id="identifier_0_306" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Ahmad dan terdapat dalam Shahih Al-Jami&amp;#8217; no. 3490">1</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Ada  juga di antara mereka yang menyambutnya dengan pergi ke pasar dan  berdesak-desakan di dalamnya. Mereka membeli berbagai jenis makanan dan  minuman, seolah-olah Ramadhan itu bulan makanan dan minuman, bulan tidur  di siang hari dan begadang dengan berbagai maksiat pada malam hari.  Padahal, seharusnya Ramadhan disambut dengan tobat, beramal shalih, dan  bersyukur kepada Allah dengan hati, lisan, dan amal perbuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah telah memperingatkan,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sejahat-jahat umatku adalah mereka yang melahap segala kenikmatan dan memakan berbagai makanan.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=306#footnote_1_306" id="identifier_1_306" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahih Al Jami&amp;#8217; no. 3599">2</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian  banyak corak dan cara baru (bid&#8217;ah) yang dilakukan umat Islam dalam  menyambut bulan Ramadhan, yang semuanya menyimpang dari petunjuk Nabi  Muhammad. Padahal Allah telah berfirman yang artinya,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya petunjuk Allahlah sebenar-benar petunjuk.&#8221;</em> (Al-Baqarah: 120)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Rasulullah juga bersabda yang artinya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  setiap hal yang baru (dalam agama) itu bid&#8217;ah, dan setiap bid&#8217;ah itu  sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya dalam neraka.&#8221;</em> (Hadits shahih)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Bagaimana Kita Menyambut Bulan Ramadhan?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk  menyambut bulan yang mulia ini, kami ringkaskan beberapa poin penting  sebagaimana berikut: Berdoa, semoga Allah memperpanjang umur kita sampai  bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum salaf, begitu  pula memohon kepada Allah pertolongan dan kekuatan dalam menunaikan  shaum, qiyamullail, dan beramal shalih di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman, artinya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan.&#8221;</em> (Al-Fatihah: 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Kebersihan  dan kesucian, maksudnya adalah kebersihan maknawi yaitu taubat yang  tulus dan sebenar-benarnya dari segala dosa dan maksiat. Bagaimana  mungkin seseorang menunaikan shaum sedangkan dia berbuka dengan sesuatu  yang haram, atau meninggalkan shalat, atau durhaka kepada kedua orang  tua, sehingga Rasulullah melaknat dan malaikat Jibril pun mengamininya?</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana  kita menginginkan shaum yang diterima dan bermanfaat, sedangkan kita  berada dalam keadaan melakukan dosa ini dan itu?  Belumkah terdengar  sabda Nabi yang artinya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Barangsiapa  yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak  membutuhkan puasanya dari makan dan minum.&#8221; </em>(Riwayat Al-Buhkhari)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga.&#8221; </em>(Shaih Al-Jami&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah  saatnya kita segera bertobat dengan tulus dan sebenar-benar tobat sebab  pintu tobat masih terbuka. Dan tobat itu bukan sekedar meninggalkan  perbuatan dosa, akan tetapi dengan mengembalikan hati dan hawa nafsu  kepada Dzat yang Maha Mengetahui alam ghaib, <em>&#8220;Maka kembalilah kepada Allah.&#8221; </em>(Adz-Dzariyat: 50)</p>
<p style="text-align: justify;">Di  antara persiapan jiwa dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, hendaknya  anda dengan sepenuh hati melakukan shaum sebaik-baiknya dan beramal  shalih pada bulan Sya&#8217;ban. Sebab pada bulan Sya&#8217;ban ini segala amal  perbuatan diangkat Allah, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan  oleh Usamah bin Zaid.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Rasulullah  melakukan shaum sepanjang bulan Sya&#8217;ban atau melakukan shaum pada bulan  itu kecuali beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.&#8221;</em> (Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara masalah penting lainnya adalah <em>bertafaqquh</em> (memahami) hukum-hukum shaum dan mengenal petunjuk Nabi sebelum  memasuki shaum; mempelajari syarat-syarat shaum, syarat sahnya, yang  membatalkannya, hukum shaum pada hari yang diragukan, apa yang boleh,  wajib, atau haram dilakukan oleh seseorang yang sedang melakukan shaum,  apa etika dan sunnah-sunnahnya, hukum qiyamullail, berapa bilangan  raka&#8217;atnya, hukum-hukum shaum bagi yang berhalangan baik karena safar  (bepergian), atau sakit, hukum zakat fitrah dan lain sebagainya. Begitu  pula mengenai petunjuk Nabi dalam bulan Ramadhan yang bertalian dengan  diri beliau, shaumnya, qiyamullailnya, kemurahan hatinya, pemeliharaan  dirinya serta keteladanan beliau dalam bertadarrus Al-Qur&#8217;an, juga yang  berkaitan dengan keluarga dan umatnya. Sebab segala sesuatu harus  didahului dengan ilmu dan pemahaman sebelum mengamalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mempersiapkan  acara-acara menyambut &#8220;tamu agung&#8221;, di antaranya dengan membaca  Al-Qur&#8217;an, memelajarinya kemudian menghafalnya, qiyamullail, memberi <em>ifthar</em> (buka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, melakukan umrah,  i&#8217;tikaf, dan berlomba dalam kebaikan dengan semangat fastabiqul khairat,  sdhadaqah, zikir, penyucian jiwa, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah  ringkasan bagaimana  kita menyambut bulan Ramadhan yang dapat kami  kemukakan. Kita berdoa semoga Allah berkenan memberi taufik dan  hidayah-Nya kepada kita agar dapat beramal shalil pada bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #c0c0c0;"><strong><em>Sumber: Majalah Nikah Vol. 4, No. 7</em></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<ol class="footnotes"><li id="footnote_0_306" class="footnote">Ahmad dan terdapat dalam<em> Shahih Al-Jami&#8217;</em> no. 3490</li><li id="footnote_1_306" class="footnote">Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani di dalam <em>Shahih Al Jami&#8217;</em> no. 3599</li></ol>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=306</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudah binti Zam&#8217;ah</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=300</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=300#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 03:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Sudah  merupakan pengetahuan umum bahwa istri-istri Rasulullah rata-rata janda.  Salah satu di antaranya adalah Saudah binti Zam&#8217;ah. Mengapa Rasulullah  menikahi beliau? Dan mengapa pula Saudah tetap bersikeras menjadi istri  Nabi walau tidak mendapat giliran kunjungan?
Saudah  binti Zam&#8217;ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abdud Al-Qursyiyyah  Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-301 alignleft" title="Saudah binti Zam'ah" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/08/Saudah-binti-Zamah.jpg" alt="" width="150" height="150" />Sudah  merupakan pengetahuan umum bahwa istri-istri Rasulullah rata-rata janda.  Salah satu di antaranya adalah Saudah binti Zam&#8217;ah. Mengapa Rasulullah  menikahi beliau? Dan mengapa pula Saudah tetap bersikeras menjadi istri  Nabi walau tidak mendapat giliran kunjungan?</p>
<p style="text-align: justify;">Saudah  binti Zam&#8217;ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abdud Al-Qursyiyyah  Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru  dari Bani Najjar. Beliau juga seorang sayyidah yang mulia dan terhormat.  Sebelumnya, menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara Suhail bin Amru  Al-Amiri. <span id="more-300"></span>Suatu ketika beliau bersama 8 orang dari Bani Amir hijrah  meninggalkan kampung halaman dan hartanya kemudian menyeberangi  dahsyatnya lautan demi agamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin  bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka alami karena menolak  kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada henti ujian menimpa  Saudah, belum usai ujian tinggal di negeri asing, beliau harus kehilangan  suami beliau, sang muhajir.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Dilamar Rasulullah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam  catatan sejarah, tak seorang pun sahabat yang berani mengajukan masukan  kepada Rasulullah tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul  Mukminin Khadijah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan di  saat kesusahan beliau yang hampir-hampir berkepanjangan, Khaulah binti Hakim  memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut  dan ramah:</p>
<p style="text-align: justify;">Khaulah: Tidakkah Anda ingin menikah wahai Rasulullah?</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi: (Beliau menjawab dengan suara yang menandakan kesedihan) Dengan siapa saya akan menikah setelah dengan Khadijah?</p>
<p style="text-align: justify;">Khaulah: Jika Anda ingin, bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi: Jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Khaulah: Putri dari orang yang paling Anda cintai yaitu Aisyah binti Abu Bakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi: (Beliau diam beberapa saat, lalu bertanya) Jika dengan seorang janda?</p>
<p style="text-align: justify;">Khaulah: Dia adalah Saudah binti Zam&#8217;ah, seorang wanita yang telah beriman kepada Anda dan mengikuti apa yang Anda bawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau  menginginkan Aisyah, namun terlebih dulu beliau menikahi Saudah binti  Zam&#8217;ah. Orang-orang Mekah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan  Saudah binti Zam&#8217;ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tak percaya  dengan kejadian tersebut. Seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak  begitu rupawan menggantikan posisi sayyidah Quraisy. Hal itu tentu  saja menarik perhatian bagi para pembesar di antara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan  membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tak dapat  menggantikan posisi Khadijah, namun Saudah mampu menunaikan  kewajiban  dalam rumah tangga <em>nubuwwah</em> dan melayani putri-putri Nabi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Demi Meraih Keistimewaan</span><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  3 tahun rumah tangga tersebut berjalan, masuklah Aisyah dalam rumah  tangga Nabi, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafshah,  Zainab, Ummu Salamah, dan lain-lain. Saudah menyadari bahwa Nabi tidak  menikahinya selain karena kasihan melihat kondisinya yang lama menjanda.  Dan bagi beliau, hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi ingin  menceraikannya dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya,  walaupun Nabi merasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tatkala  Nabi mengutarakan keinginannya itu, Saudah merasa seolah-olah itu  adalah mimpi buruk yang menyesakkan dada. Sehingga beliau merengek  dengan merendahkan diri seraya memohon, &#8220;Pertahankanlah aku wahai  Rasulullah, demi Allah, tidalah keinginanku diperistri itu karena  ketamakanku, namun aku berharap agar Allah membangkitkanku pada hari  kiamat dalam keadaan menjadi istrimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah,  Saudah lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, sehingga  beliau memberikan gilirannya kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah  dan beliau sudah tak punya keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah pun menerima usulan istrinya yang berperasaan yang halus itu, hingga turunlah ayat Allah,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).&#8221;</em> (An-Nisa: 128)</p>
<p style="text-align: justify;">Saudah  bersyukur kepada Allah karena menjadi Ummul Mukminin dan istri  Rasulullah di surga. Saudah wafat pada akhir pemerintahan Umar bin  Khaththab.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummul  Mukminin Aisyah senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan  terkesan akan keindahan kesetiannya. Aisyah berkata, &#8220;Tiada seorang  wanita pun yang paling aku sukai agar aku punya sifat seperti dia  melebihi Saudah binti Zam&#8217;ah yang saat berusia senja dia berkata, &#8216;Wahai  Rasulullah, aku hadiahkan kunjungan Anda kepadaku untuk Aisyah.&#8217; Hanya  saja beliau berwatak keras.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Saudah merupakan teladan bagi para wanita yang rela berkorban demi mendapat kemuliaan di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber:  Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi.  Wanita-Wanita Teladan di Masa Rasulullah. Cetakan III, Pustaka  At-Tibyan, Solo, 2003</em><span style="color: #c0c0c0;"><strong><em> dalam Majalah Nikah Vol. 5, No. 4</em></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=300</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benarkah Wanita Penghuni Neraka Terbanyak?</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=287</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=287#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 02:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Di antara prinsip akidah Ahluss Sunnah wal Jama&#8217;ah dan merupakan ijma&#8217; mereka adalah meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang telah  Allah ciptakan dengan haq dan Dia menetapkan calon penghuni bagi  keduanya.
Allah  jadikan surga sebagai tempat tinggal abadi yang penuh dengan berbagai  kenikmatan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, senantiasa berbuat]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-289" title="Penghuni Neraka" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/08/Penghuni-Neraka.jpg" alt="" width="150" height="150" />Di antara prinsip akidah Ahluss Sunnah wal Jama&#8217;ah dan merupakan <em>ijma&#8217;</em> mereka adalah meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang telah  Allah ciptakan dengan haq dan Dia menetapkan calon penghuni bagi  keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah  jadikan surga sebagai tempat tinggal abadi yang penuh dengan berbagai  kenikmatan bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya, senantiasa berbuat  amal shalih, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan neraka, Dia  jadikan sebagai tempat tinggal yang mengerikan dan membinasakan bagi  setiap orang kafir, musyrik, munafik, dan durhaka kepada-Nya. <span id="more-287"></span> Sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;(Surga itu) telah dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.&#8221;</em> (Ali Imran: 132)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan firman-Nya: <em>&#8220;Neraka itu telah dipersiapkan bagi orang-orang kafir.&#8221; </em>(Al-Baqarah: 24, Ali Imran: 131)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Siapakah Mayoritas Penghuni Neraka?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan  dari Abu Sa&#8217;id al Khudriy, ia berkata: &#8220;Suatu ketika Rasulullah keluar  pada hari raya Idul Adha atau Idul fitri menuju tempat shalat dan  melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda, <em>&#8216;Wahai kaum wanita besedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.&#8217;</em> Mereka bertanya, &#8216;Mengapa wahai Rasulullah?&#8217; Beliau menjawab, <em>&#8216;Kalian  banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku  menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat  menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang di  antara kalian.&#8217; </em>Mereka bertanya, &#8216;Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;<em>Bukankah kesaksian wanita sama dengan separuh kesaksian seorang pria?&#8217;</em> Mereka menjawab, &#8216;Benar.&#8217; Beliau berkata lagi,<em> &#8216;Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?&#8217; </em>Mereka menjawab, &#8216;Benar.&#8217; Beliau berkata, <em>&#8216;Itulah (bukti) kekurangan agamanya.&#8217;&#8221; </em>(HR.  Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda, &#8220;<em>Neraka  diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum  wanita. Lalu, surga diperlihatkan kepadaku dan aku melihat kebanyakan  penghuninya adalah orang-orang fakir.&#8221;</em> (HR. Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, &#8220;<em>Aku  melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah  orang-orang fakir dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan  kebanyakan penduduknya adalah wanita.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim dan Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits-hadits  tersebut di atas memberitahukan kepada kita dengan jelas dan gamblang  bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang-orang fakir (miskin).  Sedangkan penghuni neraka yang paling banyak adalah dari kaum wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Mengapa Wanita Menjadi Mayoritas Penghuni Neraka?</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di  dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah dan para sahabatnya  melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang,  diperlihatkan kepada beliau surga dan neraka. Ketika beliau melihat  neraka, beliau bersabda kepada para sahabatnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;&#8230;  dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan  seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum  wanita.&#8221;</em> Para sahabatnya pun bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, mengapa (demikian)?&#8221; Beliau menjawab: <em>&#8220;Karena kekufuran mereka.&#8221;</em> Kemudian mereka bertanya lagi: &#8220;Apakah mereka kufur terhadap Allah?&#8221; Beliau menjawab: <em>&#8220;Mereka  kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap  kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang  di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu  pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: &#8216;Aku tidak  pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu.&#8217;&#8221;</em> (HR. Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hadits lainnya, Rasulullah menjelaskan tentang sifat wanita penduduk neraka, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;&#8230;dan  wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang,  melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari  ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti  punuk unta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan wanginya  surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan  sekian.&#8221; </em>(HR. Muslim dan Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari  beberapa hadits yang telah lalu, kita dapat mengetahui beberapa sebab  yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam api neraka dan bahkan menjadikan  mereka golongan mayoritas dari penghuninya. Di antaranya adalah sebagai  berikut:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Banyak Melaknat</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi, <em>&#8220;Kalian banyak melaknat.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama telah bersepakat akan haramnya melaknat. Laknat dalam bahasa Arab artinya adalah <em>menjauhkan</em>. Sedangkan menurut syariat artinya adalah <em>menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya</em>.  Dan tidak diperbolehkan bagi seseorang menjauhkan orang-orang yang  tidak diketahui keadaannya dan akhir perkaranya dengan pengetahuan yang  pasti dari rahmat dan karunia Allah. Karena itu mereka mengatakan,  &#8216;Tidak boleh melaknat seseorang yang secara zhahir adalah seorang muslim  atau kafir kecuali terhadap orang yang telah kita ketahui menurut   dalil syar&#8217;i bahwa dia mati dalam keadaan kafir seperti Abu Jahal atau  iblis.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun  melaknat (secara mutlak tanpa menyebut nama tertentu, pent) dengan  menyebutkan sifat-sifatya tidaklah diharamkan seperti melaknat seorang  wanita yang menyambung dan minta disambungkan rambutnya, seorang yang  mentato dan minta ditato, pemakan riba dan yang memberi makan dengannya,  pelukis (makhluk hidup), orang-orang zhalim, fasiq, kafir dan melaknat  orang yang mengubah batas tanah, orang yang menasabkan seseorang kepada  selain ayahnya, membuat sesuatu yang baru dalam Islam (bid&#8217;ah), dan  lainnya sebagaimana telah disebutkan oleh dalil-dalil syar&#8217;i yang  menunjukkan kepada sifat, bukan diri tertentu.<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=287#footnote_0_287" id="identifier_0_287" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz II hal 88-89">1</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Durhaka terhadap Suami dan Mengingkari Kebaikan-Kebaikannya</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Hal ini  sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi: &#8220;Mereka kufur (durhaka)  terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap  kebaikan-kebaikannya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kedurhakaan  semacam ini banyak sekali kita dapati dalam kehidupan keluarga kaum  muslimin, yakni seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan  suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya disebabkan sikap atau  perbuatan suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri. Padahal  yang harus dilakukan oleh seorang istri adalah bersyukur atas kebaikan  yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya karena Allah tidak  akan melihat kepada istri semacam ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah:  <em>&#8220;Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=287#footnote_1_287" id="identifier_1_287" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Riwayat Nasa&amp;#8217;i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin &amp;#8216;Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76">2</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk  dalam bentuk kedurhakaan istri kepada suami adalah hal-hal berikut ini  apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syariat: Tidak melayani  kebutuhan seksual suaminya, atau bermuka masam ketika melayaninya, tidak  mau berdandan atau mempercantik diri untuk suami padahal suami  menginginkan hal itu, menyebarkan aib suami kepada orang lain, menolak  bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan  hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari  anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram,  bersenda gurau atau berbicara lemah lembut penuh mesra kepada lelaki  yang bukan mahramnya, meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang  syar&#8217;i, dan yang semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Tabarruj (Bersolek)</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi: <em>&#8220;Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud dengan <em>tabarruj</em> adalah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan  tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal  yang dapat menarik syahwat lelaki.<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=287#footnote_2_287" id="identifier_2_287" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Jilbab al Mar&amp;#8217;atil Muslimah halaman 120">3</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu  Abdil Barr berkata: &#8220;Wanita-wanita yang dimaksud Nabi adalah yang  memakai pakaian yang tipis yang menampakkan bentuk tubuhnya dan tidak  menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada  zhahirnya dan telanjang pada hakikatnya.&#8221;<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=287#footnote_3_287" id="identifier_3_287" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="Dinukil oleh Suyuthi di dalam Tanwirul Hawalik 3/103">4</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Mereka adalah wanita-wanita yang suka menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah telah melarang hal ini dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.&#8221;</em> (An-Nur: 31)</p>
<p style="text-align: justify;">Wahai  ukhti muslimah, hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang  Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan azab di  akhirat kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman:<em> &#8220;Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian  bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.&#8221;</em> (Al-Ahzab: 33)</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah  beberapa sebab yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk  neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari azab-Nya di dunia dan  akhirat. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #c0c0c0;"><em><strong>Sumber: Majalah Nikah Vol. 8, No. 8</strong></em></span></p>
<ol class="footnotes"><li id="footnote_0_287" class="footnote"><em>Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi </em>juz II hal 88-89</li><li id="footnote_1_287" class="footnote">Riwayat Nasa&#8217;i di dalam <em>Al Kubra</em> dari Abdullah bin &#8216;Amr. Lihat <em>Al Insyirah fi Adabin Nikah</em> halaman 76</li><li id="footnote_2_287" class="footnote"><em>Jilbab al Mar&#8217;atil Muslimah</em> halaman 120</li><li id="footnote_3_287" class="footnote">Dinukil oleh Suyuthi di dalam<em> Tanwirul Hawalik</em> 3/103</li></ol>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=287</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Wasiat Luqman</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=283</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 13:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Luqman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Salah  satu hamba Allah yang wasiatnya diabadikan dalam Al-Qur&#8217;an adalah Luqman  al-Hakim. Beliau adalah seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah  sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
&#8220;Dan  sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman.&#8221; (Luqman: 12)
Di  antara hikmah tersebut adalah pengetahuan agama dan kebenaran dalam  ucapannya. Beliau menjadi pemuda sebelum terutusnya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-284" title="Belajar dari Wasiat Luqman" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/08/Wall-Mania-037-11-edit.jpg" alt="" width="150" height="150" />Salah  satu hamba Allah yang wasiatnya diabadikan dalam Al-Qur&#8217;an adalah Luqman  al-Hakim. Beliau adalah seorang laki-laki yang diberi hikmah oleh Allah  sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman.&#8221;</em> (Luqman: 12)</p>
<p style="text-align: justify;">Di  antara hikmah tersebut adalah pengetahuan agama dan kebenaran dalam  ucapannya. Beliau menjadi pemuda sebelum terutusnya Nabi Daud dan  mengalami kerasulan Nabi Daud.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-283"></span>Tentang  sosok Luqman al-Hakim, Mujahid berkata, &#8220;Luqman al-Hakim adalah seorang  budak Habsyi, tebal kedua bibirnya dan pecah-pecah kedua telapak  kakinya. Pernah seorang laki-laki datang kepadanya pada suatu majelis  ketika banyak orang berkumpul. Orang itu bercerita kepada mereka, lalu  berkata kepada Luqman, &#8220;Bukankah engkau adalah penggembala domba di  tempat ini dan itu?&#8221; Luqman menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Orang laki-laki tersebut  berkata, &#8220;Apa yang membuatmu seoperti ini sekarang?&#8221; Luqman menjawab,  &#8220;Bicara yang benar dan diam dari sesuatu yang tidak berguna.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #3366ff;">Wasiat-Wasiat Luqman pada Putranya</span></h3>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Tauhid  yang Benar</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Wasiat  terpenting Luqman kepada putranya tersurat dalam Al-Qur&#8217;an,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada putranya, di waktu ia memberi  pelajaran kepadanya, &#8220;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,  sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang  besar.&#8221;"</em> (Luqman: 13)</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan: &#8220;Sebagai orang yang  sangat mengasihi dan mencintai putranya, Luqman berwasiat kepada  putranya supaya bertauhid yang benar, yaitu menyembah Allah semata dan  tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dia memberikan kepada  putranya sesuatu yang sangat utama untuk diketahui. Kemudian beliau  memberikan peringatan kepada putranya dengan mengatakan, &#8220;Sesungguhnya  mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian  pada ayat berikutnya Allah memerintahkan agar manusia berbuat baik  terhadap kedua orang tuanya, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan  hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.&#8221;</em> (Al-Isra: 23)</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak  sekali dalam ayat Al-Qur&#8217;an yang selalu menyebut secara bersama antara  perintah menyembah kepada Allah dan berbuat baik terhadap kedua orang  tua. Hal ini menunjukkan betapa penting dan luhur nilai berbakti kepada  orang tua. Seolah-olah ibadah kepada Allah menjadi sia-sia jika tidak  dibarengi dengan sikap berbakti kepada orang tua <em>(birrul walidan)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Selalu  sadar akan pengawasan Allah</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sebagai  hamba yang selalu mengingat Allah, Luqman seringkali berwasiat kepada  putranya agar menyadari keberadaan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">(Luqman  berkata), <em>&#8220;Hai anakku, sesungguhnya jika ada (perbuatan) seberat  biji sawi, dan berada dalam batu, di langit, atau di dalam bumi, niscaya  Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus  lagi Maha Mengetahui.&#8221; </em>(Luqman: 16)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah  berfirman, &#8220;Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.&#8221;  Maksudnya, Allah adalah Dzat yang Maha Teliti, dan pengetahuan-Nya mampu  menangkap segala sesuatu. Karena itu, tidak ada sesuatu pun yang samar  bagi-Nya, meskipun ia sangat lembut dan halus. Semut yang berjalan di  atas sebongkah batu hitam di tengah kegelapan malam, sangat jelas di  mata Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan  menyadari bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui  segala sesuatu, manusia akan menyadari bahwa dirinya selalu dalam  pengawasan Allah. Kesadaran seperti ini perlu ditanamkan sejak dini  kepada anak sehingga ia memiliki etika otonom, yaitu etika yang  berangkat dari kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Menegakkan  Shalat dan Amar Ma&#8217;ruf Nahi Munkar</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sebagai  ayah pendidik, Luqman selalu mengarahkan dan menasehati putranya  tentang ibadah shalat dan kebaikan, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Hai  anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik  dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar&#8230;&#8221;</em> (Luqman: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu  Katsir menjelaskan, &#8220;Yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah  melaksanakan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya serta menjaga  waktu-waktunya.&#8221; Menegakkkan shalat juga dapat berarti mengamalkan  nilai-nilai yang terkandung di balik simbol gerakan dan bacaan shalat,  seperti keikhlasan, kejujuran, disiplin, dan tawadhu&#8217;. Inilah yang perlu  ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, shalat akan  benar-benar menjadi sistem kontrol dalam menegakkan etika otonom dan  mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Sabar  Menghadapi Ujian</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sebagai  penyeru kebenaran, Luqman selalu mengingatkan pentingnya kesabaran  dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;&#8230;  dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang  demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).&#8221;</em> (Luqman: 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Wasiat  Luqman untuk selalu menetapi kesabaran adalah sesuatu yang penting bagi  siapa saja. Sebab, setiap orang pasti mengalami ujian dan cobaan dalam  hidupnya. Terlebih para juru dakwah, biasanya mengalami ujian yang lebih  berat daripada orang kebanyakan. Karena itu, wajar jika Luqman  memerintahkan anaknya untuk bersabar. Sebab, dia adalah penerus Luqman  yang kelak akan menyerukan kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesabaran  merupakan kebutuhan (kewajiban) manusia, sebagaimana firman-Nya, <em>&#8220;Sesungguhnya  yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh  Allah).&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para  juru dakwah harus siap bersabar atas semua tantangan yang dihadapinya.  Berbagai cacian, hinaan, kekerasan, hinggga penculikan dari khalayak  harus dihadapi dengan lapang dada. Oleh sebab itu, kesabaran merupakan  kewajiban bagi para penyeru kalimat Allah, sebagaimana redaksi ayat yang  menggunakan kata perintah: bersabarlah!</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian  salah satu penafsiran ayat di atas. Ada pula yang menafsirkan bahwa  yang dimaksud dengan perintah bersabar adalah kesabaran atas  kesulitan-kesulitan dunia, seperti sakit dan lain sebagainya, dan juga  kesabaran untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat kepada Allah setelah  menyesalinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut  Al-Qurthubi, penggalan ayat, <em>&#8220;Sesungguhnya yang demikian itu  termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh   Allah)&#8221;</em>, mencakup  pengertian kesabaran dalam melaksanakan shalat, menyuruh kebaikan,  melarang perbuatan munkar, dan kesabaran atas siksaan dan ujian. Sebab,  semua hal itu merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Larangan  Bersikap Sombong</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sebagai  pendidik yang agung, Luqman selau bersikap rendah hati dan tidak  sombong. Karena itu, beliau melarang anaknya bersikap sombong.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan  janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah  tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.&#8221; </em>(Luqman:  18)</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang  memalingkan wajah, Al-Qurthubi (dengan mengutip perkataan Ibnu Abbas),  berkata, &#8221; Janganlah engkau memalingkan pipimu dari orang lain karena  sombong dan ujub, atau engkau hendak menghinanya.&#8221;  Maksudnya, engkau  semestinya bersikap ramah dan menyenangkan orang lain. Demikian pula  seharusnya sikap orang tua kepada anaknya, ramah dan suka menyenangkan  hatinya. Sikap ramah orang tua akan mempengaruhi kepribadian anak dan  biasanya akan melahirkan sikap rendah hati dan tidak sombong.</p>
<p style="text-align: justify;">Berjalan  dengan keangkuhan adalah larangan agama. Setiap orang tua tidak boleh  melakukannya, apalagi di hadapan anak-anak. Sebab, anak-anak akan meniru  apa yang dilakukan orang tuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #3366ff;"><strong>Sikap  Sederhana dan Bersahaja</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Luqman  adalah figur yang bijak. Karena kebijakannya, dia diberi gelar <em>Al-Hakim</em> (yang bijak). Salah satu kebijakan Luqman yang diajarkan kepada anaknya  adalah sikap sederhana dan berbicara sopan, sebagaimana dalam  firman-Nya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan  sederhanalah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu, sesungguhnya  seburuk-buruk suara adalah suara keledai.&#8221;</em> (Luqman: 19)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qurthubi  mengatakan, &#8220;Ketika Allah melarang seseorang memiliki sifat-sifat yang  tercela, pada saat yang sama Dia memerintahkan agar mengamalkan  sikap-sikap yang mulia. Allah berfirman, &#8220;<em>Dan sederhanalah kamu dalam  berjalan.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yang  dimaksud sederhana di sini adalah tidak terlalu cepat dan tidak terlalu  lambat. Jadi, sombong dan angkuh dilarang, sedangkan berjalan santun dan  berkata sopan diperintahkan agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain  berjalan dengan santun, sikap utama yang diajarkan Luqman kepada anaknya  adalah bertutur kata yang sopan dan lemah lembut. Menurut Al-Qurthubi,  yang dimaksud dengan melunakkan suara adalah memelankan suara sesuai  dengan kebutuhan. Sebab, mengeraskan suara di atas kebutuhan adalah  sikap <em>takalluf </em>yang dapat mengganggu orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah  berfirman, <em>&#8220;Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.&#8221; </em>(Luqman:  19)</p>
<p style="text-align: justify;">Suara  keledai adalah contoh suara binatang paling buruk sehingga tidak perlu  ditiru.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah  beberapa wasiat Luqman kepada putranya. Sebagai orang tua, semoga kita  bisa belajar dari wasiat Luqman untuk mendidik anak-anak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><strong><em>Sumber:  Majalah Nikah Vol. 4, No. 12</em></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=283</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ummu Ruman</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=270</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=270#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 07:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Qudwah kita ini adalah wanita yang paling beruntung. Ia mendapatkan keindahan mahkota dunia dan akhirat.
Betapa  tidak, ia adalah istri dari khalifah Nabi yang setelah beliau wafat  kepemimpinan kaum muslimin berada di tangannya, yakni Abu Bakr Shiddiq,  manusia paling mulia setelah para nabi dan rasul. Wanita ini adalah ibu  mertua dari Rasulullah,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-273" title="Ummu Ruman" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/Ummu-Ruman.jpg" alt="" width="150" height="150" />Qudwah kita ini adalah wanita yang paling beruntung. Ia mendapatkan keindahan mahkota dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa  tidak, ia adalah istri dari khalifah Nabi yang setelah beliau wafat  kepemimpinan kaum muslimin berada di tangannya, yakni Abu Bakr Shiddiq,  manusia paling mulia setelah para nabi dan rasul. Wanita ini adalah ibu  mertua dari Rasulullah, kekasih dan utusan Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Qudwah  kita ini adalah seorang wanita sejati dan ibu teladan <span id="more-270"></span>yang telah  berhasil men-tarbiyah dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia  istimewa. Ia adalah ibunda dari Ummul Mukminin Aisyah, istri terkasih  Rasulullah, wanita yang tidak diragukan lagi keuatamaan dan kemuliaannya  dalam Islam, wanita terfaqih dan yang paling banyak ilmunya, dan  satu-satunya wanita perawan yang dinikahi Rasulullah sebagai istri  beliau di dunia dan di akhirat kelak (surga).</p>
<p style="text-align: justify;">Selain  Ummul Mukminin Aisyah, qudwah kita juga adalah ibunda dari Abdurrahman  bin Abi Bakr, salah seorang ksatria Islam yang pemberani, seorang  sahabat yang diberikan anugerah kemuliaan dan kebahagiaan mendampingi  dan membela Rasulullah sebagai sahabat dan pembantu beliau dalam  mengemban misi dakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Qudwah  kita ini adalah Ummu Ruman binti &#8216;Amir dari bani Ghanim bin Malik bin  Kinanah. Berasal dari sebuah daerah yang bernama as-Saroh yang terletak  di Jazirah Arab. Ia adalah wanita yang berakhlak mulia dan fasih  lisannya. Ketika memasuki usia remaja, ia dinikahi oleh salah seorang  pemuda yang terkenal dalam kaumnya, al-Harits bin Sakhiroh al-Azdy. Dari  pernikahan itu ia dikaruniai seorang putra yang bernama Thufail.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Harits  suami beliau ini sangat berkeinginan untuk tinggal dan menetap di kota  Makkah. Setelah ada kesempatan, dengan segera ia berangkat ke sana  dengan memboyong keluarganya. Sesampai di Makkah, sebagaimana kebiasaan  bangsa Arab di masa itu, seorang pendatang yang ingin tinggal di suatu  daerah hendaklah memilih seseorang untuk berjanji setia untuk dijadikan  sebagai pelindung dan pembela mereka. Maka al-Harits ini memilih Abu  Bakr Shiddiq sebagai pelindung dan kejadian itu terjadi sebelum Islam  datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak  lama setelah itu al-Harits meninggal dunia. Tak ada pilihan lain bagi  Abu Bakr kecuali menikahi janda al-Harits yaitu Ummu Ruman, sebagai  penghargaan kepada sahabatnya setelah mati, sebagaimana adat bangsa Arab  kala itu. Dan Ummu Ruman pun menerima Abu Bakr sebagai suami agar dapat  menjaga dan melindunginya setelah suaminya tiada.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya  ABu Bakr telah mempunyai seorang istri dan menpunyai dua orang anak,  yaitu Asma&#8217; dan Abdullah, kemudian lahirlah dari Ummu Ruman yaitu Aisyah  dan Abdurrahman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  Rasulullah datang membawa risalah Islam, adalah Abu Bakr orang pertama  yang menerima dakwah beliau dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.  Kemudian Abu Bakr mengajak keluarganya masuk Islam, maka mereka pun  masuk Islam dan beriman.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering  kali Rasulullah berkunjung ke rumah Abu Bakr dan kunjungan itu disambut  dengan senang gembira oleh Ummu Ruman dan melayani beliau dengan  sebaik-baik layanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah&#8230;  rumah Abu Bakr menjadi persinggahan mulia bagi Rasulullah, rumah Islami  yang damai. Ummu Ruman sebagai pengatur rumah tangga itu menjadi  teladan sekaligus istri shalihah yang berada di samping suaminya,  meringankan kesusahannya, dan mendampinginya dalam menghadapi masa-masa  sulit dan pahit, yang mana kala itu kaum muslimin berada dalam ujian  yang sangat berat. Ia memberikan suaminya semangat dan mendorongnya  untuk terus maju demi membela dakwah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu  Ruman sangat sedih melihat siksaan yang dilakukan kaum musyrikin kepada  orang-orang yang masuk Islam dan beriman. Ia melihat bagaimana Nabi  memberikan pelajaran tentang kesabaran kepada sahabat beliau. Di dalam  hatinya, Ummu Ruman berjanji akan menepati janti setianya kepada Islam  dan akan membelanya sampai akhir hayat. Ia yakin bahwa kemenangan itu  tidak dapat direbut dengan berpangku tangan, akan tetapi mesti ada  pengorbanan. Perjuangan untuk membela kebenaran itu bagaimana pun sulit  dan pahitnya harus tetap dijalani. Hanya pengecutlah yang lari dari  medan perang, menyerah, dan tunduk kepada kezhaliman.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  Abu Bakr ash-Shiddiq hijrah ke Madinah dan meninggalkan keluarganya di  Makkah, Ummu Ruman memikul beratnya tanggungan hidup, namun hal itu  tidaklah penting baginya. Yang ia khawatirkan adalah keadaan Rasulullah  yang hijrah bersama suaminya, ia berharap beliau terlepas dari gangguan  kaum musyrikin. Ia senantiasa bersabar dalam ketakutan sampai akhirnya  datanglah berita bahwa Rasulullah telah sampai di Madinah dengan selamat  tak kurang suatu apa pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian  Rasulullah mengutus utusan untuk menjemput keluarga dan anak-anak  beliau dan juga menjemput keluarga Abu Bakr. Maka berangkatlah rombongan  muhajirin itu menuju Madinah hingga akhirnya sampailah mereka di  Madinah. Ummu Ruman berada di barisan terdepan, lantas ia masuk ke rumah  yang telah dipersiapkan Abu Bakr untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  Allah memuliakan Rasul-Nya dengan kemenangan pada Perang Badar, Aisyah  pun memulai rumah tangganya dengan Rasulullah pada bulan Syawwal tahun  kedua hijrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu  pun berlalu tanpa terasa. Sampailah masa ketika Ummu Ruman diuji.  Kebahagiaan dan ketenangan hidup yang selama ini dirasakan Ummu ruman  diusik oleh orang yang tak suka atau benci kepada kaum muslimin.  Kejadian itu disebabkan berita bohong yang disebarkan oleh Ibnu Salul,  gembong orang-orang munafik. Ia menuduh bahwa Aisyah telah berbuat  serong.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini sangat mengguncang kaum muslimin dan dikenal dengan <em>Haditsul ifki</em>.  Dalam ujian berat ini Ummu Ruman menunjukkan kepribadiannya yang kokoh,  mencontohkan kepada kita kedudukan ibu teladan yang mampu menjadi  penopang bagi putrinya yang menghadapi kemelut rumah tangga yang sangat  rumit.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai  akhirnya, Allah memberikan jalan keluar yang menggembirakan. Allah  mengembalikan kebahagiaan kepada Ummu Ruman setelah tersingkap habis  mendung kabar bohong, dan Allah menurunkan Ayat tentang kesucian Aisyah  dalam Al-Qur&#8217;an yang akan tetap dibaca sampai hari kiamat. Dan itu  adalah balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu  Ruman wafat pada masa Rasulullah, pada bulan Dzul-Hijjah, tahun ke-6 H.  Semoga Allah meridhainya dan membalas semua pengorbanannya terhadap  Islam dan kaum muslimin serta menganugerahkan kepada beliau kebahagiaan  abadi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>Referensi:</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>Al-Ishobah fi Tamyizis Shahabah</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>Al-Isti&#8217;ab fi Ma&#8217;rifatil Ashhab</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>Ath-Thabaqat al-Kubra</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>Shuwarun min Hayatis Shahabiyat</em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><strong><em>Sumber: Majalah al-Mawaddah Edisi ke-12 Tahun ke-3</em></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=270</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Ganjaran Islam Terhadap Suami</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=262</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=262#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 07:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Islam  menempatkan seorang laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga karena  mereka diberi kelebihan oleh Allah Ta&#8217;ala atas para istri, baik dalam  masalah fisik maupun kematangan berpikir.
Berbeda  dengan kondisi fisik dan mental para wanita yang lemah dan kurang. Oleh  karena itu, Nabi senantiasa berwasiat dan berpesan kepada para suami  tentang istri-istri]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-263" title="Ganjaran Seorang Suami" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/Ganjaran-Seorang-Suami.jpg" alt="" width="150" height="150" />Islam  menempatkan seorang laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga karena  mereka diberi kelebihan oleh Allah Ta&#8217;ala atas para istri, baik dalam  masalah fisik maupun kematangan berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda  dengan kondisi fisik dan mental para wanita yang lemah dan kurang. Oleh  karena itu, Nabi senantiasa berwasiat dan berpesan kepada para suami  tentang istri-istri mereka. Bukan berwasiat kepada para istri tentang  suami mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-262"></span>Rasulullah bersabda, <em>&#8220;Saling  berwasiatlah kalian dalam hal wanita, karena wanita diciptakan dari  tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian  atasnya. Jika kamu meluruskannya maka ia akan patah, namun jika engkau  membiarkannya maka ia akan senantiasa bengkok. Karena itu, saling  berwasiatlah kalian dalam hal wanita.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_0_262" id="identifier_0_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Bukhari 3331 dan Muslim 1468">1</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi  pemimpin dalam keluarga bukan hal yang mudah dan ringan. Ia membutuhkan  pengorbanan yang berat dan tidak sedikit. Oleh karena itu, Islam  memberikan balasan dan keutamaan yang besar bagi para suami yang  berusaha memenuhi kewajibannya sebagai fitur penggembala dalam  keluarganya. Sebab balasan itu setimpal dengan usaha yang dilakukan. Di  antara keutamaan ganjaran tersebut:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Seorang suami yang berusaha menafkahi keluarganya sama dengan mujahid fi sabilillah. Allah Ta&#8217;ala berfirman: <em>&#8220;Dia  mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan  orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah,  dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah. Maka bacalah  apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur&#8217;an.&#8221;</em> (Al-Muzzammil: 20)</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Berkata  al-Qurthubi: &#8220;Dalam ayat ini Allah Ta&#8217;ala menyamakan antara derajat  mujahidin dan orang yang mencari penghasilan yang halal untuk nafkah  buat diri dan keluarganya.&#8221;<sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_1_262" id="identifier_1_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="al-Jami&amp;#8217; li Ahkamil Qur&amp;#8217;an 19/55">2</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Ka&#8217;ab  bin &#8216;Ujroh berkata: &#8220;Seorang laki-laki melewati Nabi, kemudian para  sahabatnya melihat betapa kuat dan rajinnya laki-laki tersebut, lalu  mereka berkata: &#8216;Wahai Rasulullah, seandainya hal ini di jalan Allah.&#8217;  Rasulullah bersabda: <em>&#8216;Jika ia keluar bekerja untuk menghidupi anaknya  yang  masih kecil maka dia fi sabilillah (di jalan Allah), jika ia  keluar bekerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usia maka ia  fi sabilillah, jika ia keluar bekerja untuk menjaga kehormatan dirinya  dari meminta-minta maka ia fi sabilillah dan jika ia keluar karena riya&#8217;  dan sombong maka ia di jalan setan.&#8217;&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_2_262" id="identifier_2_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. ath-Thobroni dalam al-Mu&amp;#8217;jam al-Kabir 19/129. Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib 1692">3</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Muamalah yang baik dari seorang suami terhadap istrinya termasuk shadaqah.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya apa saja yang kamu infaqkan  adalah shadaqah, sampai satu suapan yang kamu berikan ke mulut istrimu  (pun termasuk shadaqah).&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_3_262" id="identifier_3_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Bukhari 2742, Muslim 1628">4</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah juga bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya  tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan mengharap wajah Allah  kecuali engkau akan diberikan pahala atasnya sampai pun apa yang engkau  berikan ke mulut istrimu.&#8221;</em> (HR. Bukhari 1295, 2742)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda: <em>&#8220;Sebaik-baik  dinar yang dinafkahkan seorang laki-laki adalah dinar yang dinafkahkan  kepada keluarganya, dan dinar yang dinafkahkan untuk kendaraannya di  jalan Allah, serta dinar yang dinafkahkan kepada saudaranya di jalan  Allah.&#8221;</em> (HR. Muslim 994)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: <em>&#8220;Jima&#8217; kalian (dengan istri) adalah shadaqah.&#8221;</em> Mereka bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kita  yang mendatangi syahwatnya mendapatkan pahala?&#8221; Beliau menjawab: <em>&#8220;Bagaimana  menurut kalian jika ia meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah  ia mendapat dosa? Maka begitu juga jika ia meletakkannya pada sesuatu  yang halal maka ia memperoleh pahala.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_4_262" id="identifier_4_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Muslim 1006 dan Abu Dawud 1286">5</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Suami  yang mengajarkan ilmu agama kepada anak dan istrinya serta menganjurkan  ketaatan akan mendapatkan pahala berlipat dan rahmat dari Allah Ta&#8217;ala.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:<em> &#8220;Ada tiga orang yang mereka berhak mendapat dua pahala&#8230;. dan (3)  seorang laki-laki yang memiliki budak wanita kemudian ia mengajarkan  adab padanya dan memperbagus pengajarannya dan juga mengajarkannya (ilmu  agama) dan memperbagus pengajarannya, kemudian ia membebaskannya dan  menikahinya; maka baginya dua pahala.&#8221;</em> (HR. Bukhari 97, 2544)</p>
<p style="text-align: justify;">Jika  seorang suami yang mengajari budak wanitanya saja akan mendapatkan dua  pahala, maka mengajari istri dan anak-anaknya tentu lebih besar  pahalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:<em> &#8220;Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu shalat  dan membangunkan istrinya kemudian sang istri shalat. Jika ia enggan  maka sang suami memercikkan air di wajahnya.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_5_262" id="identifier_5_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Ahmad 2/250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 625">6</a></sup></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:<em> &#8220;Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga  perkara: shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang  mendo&#8217;akannya.&#8221;</em> (HR. Muslim 1631)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:<em> &#8220;Barangsiapa yang mengurus dua anak perempuan sampai baligh maka ia  akan datang pada hari kiamat, saya da dia&#8230;(beliau melekatkan dua  jarinya).&#8221; </em>(HR. Muslim 2631)</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Seorang  suami dan juga istri yang berusaha memenuhi cita-cita Rasulullah untuk  memperbanyak umatnya akan mendapatkan syafa&#8217;at dari anaknya untuk masuk  ke surga.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda:<em> &#8220;Bahwasanya dikatakan kepada anak-anak muda pada hari kiamat: &#8216;Masuklah  kalian ke surga!&#8217; Mereka menjawab: &#8216;Ya Rabbku, sampai bapak-bapak dan  ibu-ibu kami juga masuk.&#8217; Maka Allah berkata: &#8216;Mengapa aku melihat  kalian enggan masuk, masuklah ke surga.&#8217; Mereka berkata: &#8216;Ya Allah,  bapak-bapak kami dan ibu-ibu kami.&#8217; Maka Allah berkata: &#8216;Masuklah kalian  dan bapak-bapak kalian ke surga.&#8217;&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_6_262" id="identifier_6_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Ahmad 4/105. Al Haitsami berkata: rijalnya tsiqah">7</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Kecemburuan para bidadari terhadap para suami yang disakiti oleh istrinya.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda:<em> &#8220;Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya  dari para bidadari akan berkata: &#8216;Jangan kamu ganggu dia, semoga Allah  memerangimu, ia hanya singgah sebentar di sisimu dan hampir-hampir akan  berpisah denganmu menuju kami!&#8217;&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_7_262" id="identifier_7_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. at-Tirmidzi 1184, Ibnu Majah 2014, Shahih at-Targhib 1945">8</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Suami yang berakhlak dan bermuamalah dengan baik terhadap keluarganya termasuk sebaik-baik mukmin.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda: <em>&#8220;Sebaik-baik  kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang  paling baik terhadap keluargaku di antara kalian.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_8_262" id="identifier_8_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Ibnu Hibban 1312, Shahih at-Targhib 1924">9</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Bagi para bapak atau suami yang ditinggal mati anaknya kemudian bersabar maka ia akan menjadi penghalang baginya dari neraka.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda:<em> &#8220;Tidaklah seorang hamba yang muslim mempunyai tiga anak perempuan lalu  ia menafkahinya sampai ia baligh atau meninggal kecuali akan menjadi  penghalang baginya dari neraka.&#8221;</em><sup><a href="http://www.suarasunnah.com/?p=262#footnote_9_262" id="identifier_9_262" class="footnote-link footnote-identifier-link" title="HR. Ahmad 49/36, Shahih at-Targhib 1972">10</a></sup></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><span style="color: #999999;"><strong>Seorang suami yang adil terhadap keluarganya akan mendapatkan kecintaan dan kemuliaan di surga Allah.</strong></span></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta&#8217;ala berfirman: <em>&#8220;Dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.&#8221;</em> (al-Hujurat: 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata, Rasulullah bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya  orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah berada di atas  mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan ar-Rahman (Allah) Azza wa  Jalla-dan kedua tangan-Nya adalah kanan-yaitu orang-orang yang berbuat  adil di dalam hukumnya, keluarganya dan dalam pengurusannya.&#8221;</em> (HR. Muslim 4825)</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahul Muwaffiq.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: Majalah al-Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-3, Sya&#8217;ban 1430H</em></p>
<ol class="footnotes"><li id="footnote_0_262" class="footnote">HR. Bukhari 3331 dan Muslim 1468</li><li id="footnote_1_262" class="footnote"><em>al-Jami&#8217; li Ahkamil Qur&#8217;an</em> 19/55</li><li id="footnote_2_262" class="footnote">HR. ath-Thobroni dalam <em>al-Mu&#8217;jam al-Kabir</em> 19/129. Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib</em> 1692</li><li id="footnote_3_262" class="footnote">HR. Bukhari 2742, Muslim 1628</li><li id="footnote_4_262" class="footnote">HR. Muslim 1006 dan Abu Dawud 1286</li><li id="footnote_5_262" class="footnote">HR. Ahmad 2/250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib wa at-Tarhib</em> 625</li><li id="footnote_6_262" class="footnote">HR. Ahmad 4/105. Al Haitsami berkata: <em>rijalnya tsiqah</em></li><li id="footnote_7_262" class="footnote">HR. at-Tirmidzi 1184, Ibnu Majah 2014, Shahih at-Targhib 1945</li><li id="footnote_8_262" class="footnote">HR. Ibnu Hibban 1312, <em>Shahih at-Targhib</em> 1924</li><li id="footnote_9_262" class="footnote">HR. Ahmad 49/36, <em>Shahih at-Targhib</em> 1972</li></ol>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Membatasi Keturunan</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=255</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=255#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 09:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Larangan]]></category>
		<category><![CDATA[KB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Bagaimana hukum KB bagi wanita yang telah melahirkan dengan cara operasi?
Jawaban dari pertanyaan ini pernah dibahas oleh Majlis Hai&#8217;atu Kibar al-Ulama sehingga mengeluarkan sebuah ketetapan yang isinya sebagai berikut:
Dengan mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya:

Sesungguhnya syari&#8217;at Islam menganjurkan penyebaran dan perbanyakan  keturunan. Selain itu, keturunan merupakan nikmat yang besar dan  anugerah yang agung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignright size-full wp-image-256" title="Membatasi Keturunan" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/Keluarga-Berencana.jpg" alt="" width="150" height="150" />Tanya: Bagaimana hukum KB bagi wanita yang telah melahirkan dengan cara operasi?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban dari pertanyaan ini pernah dibahas oleh <em>Majlis Hai&#8217;atu Kibar al-Ulama</em> sehingga mengeluarkan sebuah ketetapan yang isinya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Sesungguhnya syari&#8217;at Islam menganjurkan penyebaran dan perbanyakan  keturunan. <span id="more-255"></span>Selain itu, keturunan merupakan nikmat yang besar dan  anugerah yang agung dari Allah kepada hamba-Nya. Dan sungguh telah  banyak nash-nash, baik dari Al-Qur&#8217;an maupun sunnah nabi yang telah  dikumpulkan oleh a<em>l-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-&#8217;Ilmiyyah wal Ifta&#8217;</em> dalam membahas perkara ini untuk diserahkan kepada Dewan Hai&#8217;ah Kibar al-Ulama kerajaan Arab Saudi</li>
<li>Sesungguhnya perbuatan pembatasan keturunan atau mencegah kehamilan  jelas bertentangan dengan fitrah manusia yang Allah berikan kepada  makhluk-Nya. Lebih dari itu, perbuatan ini juga bertentangan dengan  syari&#8217;at Islam yang telah diridhai Allah untuk dipeluk hamba-Nya.</li>
<li>Sesungguhnya orang-orang yang mendengung-dengungkan pembatasan  keturunan atau pencegahan kehamilan adalah satu kelompok yang  memfokuskan dakwahnya untuk melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin  secara umum dan kaum muslimin di Arab Saudi secara khusus. Dengan begitu  mereka bisa menguasai atau menjajah negeri atau penduduknya. Di samping  itu, perbuatan ini juga merupakan perbuatan orang-orang jahiliyah dan  berburuk sangka terhadap Allah serta memperlemah keberadaan Islam</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dengan  pertimbangan beberapa hal tersebut, maka Majelis Dewan Hai&#8217;ah Kibar  al-Ulama menetapkan bahwa membatasi keturunan hukumnya haram secara  mutlak. Demikian juga tidak boleh mencegah kehamilan apabila dengan  alasan takut miskin, karena Allah telah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.&#8221;</em> (adz-Dzariyat: 58)</p>
<p style="text-align: justify;">Di ayat yang lain Allah juga berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.&#8221;</em> (Hud: 6)</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun  apabila pencegahan kehamilan tersebut karena alasan syar&#8217;i, seperti  seorang wanita yang tidak bisa melahirkan secara alami sehingga  mengharuskan operasi untuk mengeluarkan bayinya, atau menunda kehamilan  untuk masa tertentu karena ada maslahat (sisi positif) yang dipandang  oleh pasangan suami istri, maka tidaklah mengapa untuk mencegah  kehamilan atau menundanya di masa itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah diriwayatkan dari para sahabat akan bolehnya <em>&#8216;azl</em> (mengeluarkan mani di luar farji istrinya). Sebagian <em>fuqoha&#8217;</em> (ahli fiqih) juga membolekan menggugurkan janin yang berumur kurang  dari 40 hari. Bahkan apabila ada madhorot yang pasti, maka kehamilan  tersebut harus dicegah. <em>Wa billahi at-Taufiq</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada nabi dan para sahabatnya. <em>(Fatwa al-Lajnah ad-Da&#8217;imah 19: 424)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: Majalah al-Mawaddah Edisi Ke-12, Tahun Ke-3</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=255</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umaimah bintu Ruqaiqah</title>
		<link>http://www.suarasunnah.com/?p=243</link>
		<comments>http://www.suarasunnah.com/?p=243#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 09:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.suarasunnah.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Marilah  kita buka lembaran sejarah wanita shahabiah yang satu ini, seorang  mukminah yang penyabar dan ikut serta dalam baiat para wanita, juga  seorang perawi hadits.
 Nisbah Kepada Ibunya
Menurut  jumhur ahli hadits dan para penulis biografi  serta silsilah keluarga,  dia dinisbatkan kepada ibunya, Ruqaiqah. Marilah kita mengetahui  nasabnya yang benar.
Umaimah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-244" title="Umaimah bintu Ruqaiqah" src="http://www.suarasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/Umaimah-bintu-Ruqaiqah.jpg" alt="" width="150" height="150" />Marilah  kita buka lembaran sejarah wanita shahabiah yang satu ini, seorang  mukminah yang penyabar dan ikut serta dalam baiat para wanita, juga  seorang perawi hadits.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"> <strong>Nisbah Kepada Ibunya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut  jumhur ahli hadits dan para penulis biografi  serta silsilah keluarga,  dia dinisbatkan kepada ibunya, Ruqaiqah. Marilah kita mengetahui  nasabnya yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-243"></span>Umaimah bintu Ruqaiqah adalah <em>sighah tashghir</em> dari nama ibunya, Ruqaiqah bintu Khuwailid. Ruqaiqah bintu Khuwailid adalah saudara perempuan Khadijah, istri nabi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nasab  dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut: Umaimah bintu Abdillah bin  Bajad dari Bani Tamim bin Murrah. Jadi dirinya adalah Taimiah, kaumnya  Abu Bakar Ash-Shiddiq.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu  Abi Khaitsamah mengatakan, &#8220;Umaimah populer dengan sebutan Binti  Ruqaiqah dikarenakan para ahli hadits menisbatkannya kepada ibunya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, maka Umaimah adalah anak bibi Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Wanita Penyabar</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Umaimah  masuk Islam sejak awal memancarnya cahaya Islam di Mekah. Ia termasuk  golongan pertama yang masuk Islam. Dikarenakan keislamannya, mulailah ia  menghadapi berbagai siksaan dari pihak kaum musyrikin. Orang-orang  berhati batu mulai mempersulit mereka yang masuk Islam dengan sangat  keras. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang tidak tahan dengan siksaan  yang diterimanya, dan mati di tangan kaum kafir. Sebagian ada yang sabar  mengharap pahala dan balasan Allah. Di antara mereka yang sabar itu  adalah Umaimah. Ibnu Said menyebutkan bahwa Umaimah termasuk wanita yang  menerima siksa di jalan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Umaimah  bersabar hingga datang hari kemenangan dari sisi-Nya sehingga kaum  Mukminin menjadi yang paling perkasa. Umaimah berbaiat dengan baiat yang  masyhur, dan dianggap sebagai berita paling indah yang berkenaan  dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Baiat</strong> <strong>yang Penuh Berkah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Umaimah  meriwayatkan kejadian baiatnya sendiri dengan mengatakan, &#8220;Kami datang  kepada Rasulullah bersama para wanita karena hendak berbaiat kepada  beliau. Kami mengatakan, &#8216;Kami berbaiat kepada engkau untuk tidak  menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak  kami, tidak menuduh zina, dan tidak bermaksiat kepada engkau dalam  kebaikan.&#8217;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda, <em>&#8220;Dalam segala hal yang kalian mampu melakukannya.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Para  wanita mengatakan, &#8220;Allah dan Rasul-Nya lebih kami cintai daripada diri  kami sendiri, marilah engkau baiat kami wahai Rasulullah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda, <em>&#8220;Kami tidak menjabat tangan wanita. Kata-kataku untuk seratus orang wanita sama dengan kata-kataku untuk satu orang wanita.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Umaimah dan Hadits Rasulullah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu  Abi Syaibah mengatakan, &#8220;Aku mendengar ayahku berkata, &#8216;Sebagian dari  kalangan bani Tamim yang mengambil riwayat dari Nabi adalah Umaimah  bintu Ruqaiqah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Khalifah  bin Khayyath di dalam kitabnya mengatakan, &#8220;Muhammad bin Al-Munkadir  mengambil riwayat tentang baiatnya kaum wanita dari Umaimah bintu  Ruqaiqah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umaimah  meriwayatkan dari Nabi dan istri beliau sebanyak delapan buah hadits.  Hadits tentang baiat di atas merupakan riwayatnya yang paling masyhur.</p>
<p style="text-align: justify;">Darinya  Muhammad bin Al-Munkadir meriwayatkan hadits. Demikian pula putri dari  Umaimah, Hukaimah bintu Umaimah. Disebutkan oleh Ibnu Saad bahwa Umaimah  melahirkan anak dari Hubaib bin Ka&#8217;ab bin Umar Ats Tsaqafy sekalipun  Umaimah jauh darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Umaimah dan Mu&#8217;awiyah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Umaimah hidup di masa <em>Khulafaurrasyidin</em>.  Ia menyaksikan berbagai penaklukan tentara Islam di timur maupun barat.  Ketika pusat pemerintahan Islam berpindah ke Syam, Umaimah berpindah ke  Damaskus. Dikarenakan Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan membawanya. Mu&#8217;awiyah  membangun sebuah rumah untuk Umaimah dan sangat menghormatinya. Umaimah  menyaksikan wafatnya Mu&#8217;awiyah di Damaskus. Ibnu Asakir telah  meriwayatkan bahwa Umaimah datang kepada Mu&#8217;awiyah ketika dia sedang  sakit, yang menjadi penyebab kematiannya. Ia berkata kepada Umaimah,  &#8220;Ratapilah aku, wahai Binti Ruqaiqah!&#8221; Umaimah menutupi diri dengan  pekaiannya lalu berkata: &#8220;Aku tidak menangisinya, aku tidak  menangisinya. Ketahuilah seluruh pemuda berkumpul di sekitarnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Mu&#8217;awiyah berkata kepada kedua putrinya, &#8220;Balikkanlah badanku!&#8221; Ia dibalikkan oleh Hindun dan Ramlah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mu&#8217;awiyah  berkata lagi, &#8220;Sungguh kalian berdua membalikkanku seperti orang yang  mengetahui segala permasalahan. Semoga besok dijaga dari beratnya siksa  api neraka.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas  bagi kita bahwa Umaimah hidup hingga setelah zaman Mu&#8217;awiyah. Wanita ini  tetap tinggal di Damaskus hingga tiba ajalnya. Semoga Allah meridhai  Umaimah dan menjadikannya ahli Surga <em>Na&#8217;im</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber: Majalah Nikah Vol. 7 No. 6</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.suarasunnah.com/?feed=rss2&amp;p=243</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
