Nabi Syuaib tak henti-hentinya mengajak kaumnya untuk taat kepada perintah Allah, mengesakan ibadah hanya kepada-Nya, menjauhi penyembahan kepada pohon Aikah, meninggalkan kebiasaan mereka berbuat curang dalam muamalah (jual beli). Namun, kaum Madyan tetap bersikeras berada di atas tradisi mereka, tak ada keinginan untuk mengikuti apa yang disampaikan Nabi Syuaib. Di antara mereka mencemooh dan menghina apa yang disampaikan Nabi Syuaib. Hingga pada akhirnya kaum madyan menyudahi tanggapan terakhir mereka akan dakwah Nabi Syuaib:

Dan berkata sekelompok orang kafir dari kaum Nabi Syuaib, “Sungguh jika kalian mengikuti ajaran Syuaib, menjadilah kalian orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 90)

Kaum Madyan sama sekali tidak memikirkan apa yang disampaikan Nabi Syuaib. Bukannya mereka menerima, tapi malah menolak mentah-mentah, menuduhnya telah terkena sihir dan merendahkan Nabi Syuaib. Mereka menghardik, “Kalaulah tidak karena keluargamu, tentulah kami telah merajammu. Dan tidaklah kamu di hadapan kami termasuk orang-orang yang diperhitungkan.” Bahkan di antara mereka menantang Nabi Syuaib agar mendatangkan apa yang dijanjikan Allah berupa adzab. Sangkaan mereka, semua itu hanyalah bualan Nabi Syuaib untuk menakut-nakuti mereka agar mau mengikuti ajarannya.

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit (adzab), jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (asy-Syu’ara: 187)

Nabi Syuaib berusaha keras menyadarkan kaum Madyan. Beliau mengingatkan mereka akan kejadian yang telah menimpa umat-umat sebelum mereka, di mana Allah mengirimkan adzab kepada kaum yang mendustakan apa yang disampaikan rasul-Nya. Beliau juga heran, mengapa mereka tidak berbuat kejahatan (merajam Nabi Syuaib) karena lebih takut kepada keluarga beliau daripada takut kepada Allah. Tak takutkah mereka jika adzab Allah datang kepada mereka?! Sungguh, kaum Madyan benar-benar sudah parah penyimpangannya.

Keadaan mereka seperti kaum Quraisy ketika menyikapi dakwah Rasulullah di Makkah, sebagaimana Allah terangkan:

Dan mereka berkata,”Hati kami telah tertutup dan telinga kami telah tersumbat dari apa yang engkau dakwahkan kepada kami. Antara kami dan kamu telah ada pemisah. Maka beramallah kamu, sesungguhnya kami juga beramal.” (Fushshilat:5)

Doa Nabi Syuaib Adalah Bencana Bagi Kaum Madyan

Ketika suasana memanas, pemuka-pemuka kaum Madyan yang sombong memberi pilihan kepada Nabi Syuaib dan pengikutnya. Jika Nabi Syuaib ingin tetap tinggal di daerah mereka, maka dia dan pengikutnya harus berbalik haluan kembali seperti semula (seperti mereka), yakni berkeyakinan seperti kaum Madyan. Namun, jika Nabi Syuaib dan pengikutnya tetap bersikukuh pada pendiriannya, mereka memaksa akan mengusir Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman dari negeri mereka.

Menanggapi tawaran kaumnya tersebut, Nabi Syuaib dengan tenang menepis bujukan mereka, “Kami tidak patut mengikuti agama kalian setelah Allah memberi petunjuk kepada kami.” Beliau sampaikan pada mereka, jika pembangkangan mereka berlanjut, beliau akan meminta pertolongan kepada Allah untuk memberikan pelajaran pada mereka. Beliau pasrah kepada Allah dan bermunajat kepada-Nya:

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan haq (adil). Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf:89)

Beliau juga memberikan ancaman pamungkas kepada kaum Madyan:

Nabi Syuaib berkata, “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuan kalian, sesungguhnya aku pun juga berbuat pula. Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa adzab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah adzab itu, sesungguhnya aku pun menunggu bersama kalian.” (Hud: 93)

Maka ketika doa ini telah terucap dari Rasul-Nya, serta merta Allah mengabulkannya. Tidaklah mungkin Allah menolak doa Rasul-Nya ketika meminta pertolongan dari pembangkangan kaumnya. Selanjutnya, Allah mewahyukan kepada Nabi Syuaib agar segera menyingkir dari daerah kaum Madyan bersama orang-orang yang beriman untuk menghindari datangnya adzab Allah. Maka Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman pun bergegas meninggalkan kaumnya.

Ketika Adzab Datang

Di suatu saat yang ditentukan Allah, tiba-tiba keadaan menjadi hening, angin sama sekali tak bertiup, alam sepertinya tak bergerak, udara seakan-akan tak berganti, disusul hawa panas mulai menyelubungi daerah mereka. Keadaan ini berjalan selama 7 hari. Kaum Madyan mulai panik. Mereka berhamburan keluar rumah menuju tempat terbuka karena tak kuat menahan pengap yang disebabkan hawa panas yang semakin meninggi. Orang dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan semuanya mencari tempat berteduh yang nyaman.

Di saat mereka dalam kondisi yang demikian, Allah kirimkan atas mereka naungan mendung yang berjalan ke arah mereka. Melihat ada naungan, kaum Madyan serentak mengumpul di bawahnya. Satu demi satu penduduk Madyan menjadi bergerombol tanpa terkecuali. Maka ketika mereka benar-benar telah terkumpul menjadi satu, tiba-tiba naungan yang di atas mereka bergerak ke arah mereka. Awan yang tadinya disangka hujan, ternyata berisi debu dan bara yang panas, siap menyapu bersih mereka. Allah persiapkan itu semua untuk membinasakan mereka. Pada saat yang genting ini, bumi tiba-tiba bergetar hebat, disusul suara menggelegar dari langit. Sehingga tak bisa dielakkan, keadaan kaum Madyan betul-betul mengenaskan. Jeritan-jeritan histeris mengiringi kebinasaan mereka. Allah menceritakan:

Kemudian mereka mendustakan Syuaib, lalu mereka ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya adzab itu adalah adzab yang besar. (asy-Syua’ra:198)

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka menjadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (al-A’raf: 91)

Nabi Syuaib Selamat

Saat datangnya adzab Allah, Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman menjauh dari pemukiman kaum Madyan. Mereka dalam keadaan selamat. Allah mengisahkan:

Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya sebagai rahmat dari Kami. Dan orang-orang yang zhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumah mereka. (Hud: 94)

Setelah kaum Madyan binasa, kembalilah Nabi Syuaib dan orang-orang yang beriman ke pemukiman mereka. Tanpa bersedih hati, Nabi Syuaib memberikan penandasan terhadap kaumnya dari apa yang beliau dakwahkan. Allah menceritakan:

Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian amanat-amanat Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepada kalian. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap  orang-orang yang kafir.” (al-A’raf: 93)

Maka tinggallah di negeri Madyan orang-orang yang beriman di bawah bimbingan Nabi Syuaib. Mereka berketurunan hingga nantinya datanglah Nabi Musa kepada mereka menghindari ancaman raja Fir’aun.

Sumber: Majalah al-Mawaddah Edisi 4 Tahun Ke 3 Vol. 25