Marilah kita buka lembaran sejarah wanita shahabiah yang satu ini, seorang mukminah yang penyabar dan ikut serta dalam baiat para wanita, juga seorang perawi hadits.

Nisbah Kepada Ibunya

Menurut jumhur ahli hadits dan para penulis biografi  serta silsilah keluarga, dia dinisbatkan kepada ibunya, Ruqaiqah. Marilah kita mengetahui nasabnya yang benar.

Umaimah bintu Ruqaiqah adalah sighah tashghir dari nama ibunya, Ruqaiqah bintu Khuwailid. Ruqaiqah bintu Khuwailid adalah saudara perempuan Khadijah, istri nabi.

Nasab dari pihak ayahnya adalah sebagai berikut: Umaimah bintu Abdillah bin Bajad dari Bani Tamim bin Murrah. Jadi dirinya adalah Taimiah, kaumnya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ibnu Abi Khaitsamah mengatakan, “Umaimah populer dengan sebutan Binti Ruqaiqah dikarenakan para ahli hadits menisbatkannya kepada ibunya.”

Dengan demikian, maka Umaimah adalah anak bibi Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah.

Wanita Penyabar

Umaimah masuk Islam sejak awal memancarnya cahaya Islam di Mekah. Ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Dikarenakan keislamannya, mulailah ia menghadapi berbagai siksaan dari pihak kaum musyrikin. Orang-orang berhati batu mulai mempersulit mereka yang masuk Islam dengan sangat keras. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, dan mati di tangan kaum kafir. Sebagian ada yang sabar mengharap pahala dan balasan Allah. Di antara mereka yang sabar itu adalah Umaimah. Ibnu Said menyebutkan bahwa Umaimah termasuk wanita yang menerima siksa di jalan Allah.

Umaimah bersabar hingga datang hari kemenangan dari sisi-Nya sehingga kaum Mukminin menjadi yang paling perkasa. Umaimah berbaiat dengan baiat yang masyhur, dan dianggap sebagai berita paling indah yang berkenaan dengannya.

Baiat yang Penuh Berkah

Umaimah meriwayatkan kejadian baiatnya sendiri dengan mengatakan, “Kami datang kepada Rasulullah bersama para wanita karena hendak berbaiat kepada beliau. Kami mengatakan, ‘Kami berbaiat kepada engkau untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak kami, tidak menuduh zina, dan tidak bermaksiat kepada engkau dalam kebaikan.’”

Rasulullah bersabda, “Dalam segala hal yang kalian mampu melakukannya.”

Para wanita mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih kami cintai daripada diri kami sendiri, marilah engkau baiat kami wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Kami tidak menjabat tangan wanita. Kata-kataku untuk seratus orang wanita sama dengan kata-kataku untuk satu orang wanita.”

Umaimah dan Hadits Rasulullah

Ibnu Abi Syaibah mengatakan, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Sebagian dari kalangan bani Tamim yang mengambil riwayat dari Nabi adalah Umaimah bintu Ruqaiqah.”

Khalifah bin Khayyath di dalam kitabnya mengatakan, “Muhammad bin Al-Munkadir mengambil riwayat tentang baiatnya kaum wanita dari Umaimah bintu Ruqaiqah.”

Umaimah meriwayatkan dari Nabi dan istri beliau sebanyak delapan buah hadits. Hadits tentang baiat di atas merupakan riwayatnya yang paling masyhur.

Darinya Muhammad bin Al-Munkadir meriwayatkan hadits. Demikian pula putri dari Umaimah, Hukaimah bintu Umaimah. Disebutkan oleh Ibnu Saad bahwa Umaimah melahirkan anak dari Hubaib bin Ka’ab bin Umar Ats Tsaqafy sekalipun Umaimah jauh darinya.

Umaimah dan Mu’awiyah

Umaimah hidup di masa Khulafaurrasyidin. Ia menyaksikan berbagai penaklukan tentara Islam di timur maupun barat. Ketika pusat pemerintahan Islam berpindah ke Syam, Umaimah berpindah ke Damaskus. Dikarenakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan membawanya. Mu’awiyah membangun sebuah rumah untuk Umaimah dan sangat menghormatinya. Umaimah menyaksikan wafatnya Mu’awiyah di Damaskus. Ibnu Asakir telah meriwayatkan bahwa Umaimah datang kepada Mu’awiyah ketika dia sedang sakit, yang menjadi penyebab kematiannya. Ia berkata kepada Umaimah, “Ratapilah aku, wahai Binti Ruqaiqah!” Umaimah menutupi diri dengan pekaiannya lalu berkata: “Aku tidak menangisinya, aku tidak menangisinya. Ketahuilah seluruh pemuda berkumpul di sekitarnya.”

Kemudian Mu’awiyah berkata kepada kedua putrinya, “Balikkanlah badanku!” Ia dibalikkan oleh Hindun dan Ramlah.

Mu’awiyah berkata lagi, “Sungguh kalian berdua membalikkanku seperti orang yang mengetahui segala permasalahan. Semoga besok dijaga dari beratnya siksa api neraka.”

Jelas bagi kita bahwa Umaimah hidup hingga setelah zaman Mu’awiyah. Wanita ini tetap tinggal di Damaskus hingga tiba ajalnya. Semoga Allah meridhai Umaimah dan menjadikannya ahli Surga Na’im.

Sumber: Majalah Nikah Vol. 7 No. 6