Web Resmi Dakwah Islam Salatiga
Indahnya Ganjaran Islam Terhadap Suami
Islam menempatkan seorang laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga karena mereka diberi kelebihan oleh Allah Ta’ala atas para istri, baik dalam masalah fisik maupun kematangan berpikir.
Berbeda dengan kondisi fisik dan mental para wanita yang lemah dan kurang. Oleh karena itu, Nabi senantiasa berwasiat dan berpesan kepada para suami tentang istri-istri mereka. Bukan berwasiat kepada para istri tentang suami mereka.
Rasulullah bersabda, “Saling berwasiatlah kalian dalam hal wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu meluruskannya maka ia akan patah, namun jika engkau membiarkannya maka ia akan senantiasa bengkok. Karena itu, saling berwasiatlah kalian dalam hal wanita.”1
Menjadi pemimpin dalam keluarga bukan hal yang mudah dan ringan. Ia membutuhkan pengorbanan yang berat dan tidak sedikit. Oleh karena itu, Islam memberikan balasan dan keutamaan yang besar bagi para suami yang berusaha memenuhi kewajibannya sebagai fitur penggembala dalam keluarganya. Sebab balasan itu setimpal dengan usaha yang dilakukan. Di antara keutamaan ganjaran tersebut:
- Seorang suami yang berusaha menafkahi keluarganya sama dengan mujahid fi sabilillah. Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah. Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.” (Al-Muzzammil: 20)
Berkata al-Qurthubi: “Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyamakan antara derajat mujahidin dan orang yang mencari penghasilan yang halal untuk nafkah buat diri dan keluarganya.”2
Ka’ab bin ‘Ujroh berkata: “Seorang laki-laki melewati Nabi, kemudian para sahabatnya melihat betapa kuat dan rajinnya laki-laki tersebut, lalu mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seandainya hal ini di jalan Allah.’ Rasulullah bersabda: ‘Jika ia keluar bekerja untuk menghidupi anaknya yang masih kecil maka dia fi sabilillah (di jalan Allah), jika ia keluar bekerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usia maka ia fi sabilillah, jika ia keluar bekerja untuk menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta maka ia fi sabilillah dan jika ia keluar karena riya’ dan sombong maka ia di jalan setan.’”3
- Muamalah yang baik dari seorang suami terhadap istrinya termasuk shadaqah.
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya apa saja yang kamu infaqkan adalah shadaqah, sampai satu suapan yang kamu berikan ke mulut istrimu (pun termasuk shadaqah).”4
Rasulullah juga bersabda: “Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah dengan mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberikan pahala atasnya sampai pun apa yang engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari 1295, 2742)
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik dinar yang dinafkahkan seorang laki-laki adalah dinar yang dinafkahkan kepada keluarganya, dan dinar yang dinafkahkan untuk kendaraannya di jalan Allah, serta dinar yang dinafkahkan kepada saudaranya di jalan Allah.” (HR. Muslim 994)
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Jima’ kalian (dengan istri) adalah shadaqah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kita yang mendatangi syahwatnya mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika ia meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah ia mendapat dosa? Maka begitu juga jika ia meletakkannya pada sesuatu yang halal maka ia memperoleh pahala.”5
- Suami yang mengajarkan ilmu agama kepada anak dan istrinya serta menganjurkan ketaatan akan mendapatkan pahala berlipat dan rahmat dari Allah Ta’ala.
Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang mereka berhak mendapat dua pahala…. dan (3) seorang laki-laki yang memiliki budak wanita kemudian ia mengajarkan adab padanya dan memperbagus pengajarannya dan juga mengajarkannya (ilmu agama) dan memperbagus pengajarannya, kemudian ia membebaskannya dan menikahinya; maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari 97, 2544)
Jika seorang suami yang mengajari budak wanitanya saja akan mendapatkan dua pahala, maka mengajari istri dan anak-anaknya tentu lebih besar pahalanya.
Rasulullah bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu shalat dan membangunkan istrinya kemudian sang istri shalat. Jika ia enggan maka sang suami memercikkan air di wajahnya.”6
Rasulullah bersabda: “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim 1631)
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengurus dua anak perempuan sampai baligh maka ia akan datang pada hari kiamat, saya da dia…(beliau melekatkan dua jarinya).” (HR. Muslim 2631)
- Seorang suami dan juga istri yang berusaha memenuhi cita-cita Rasulullah untuk memperbanyak umatnya akan mendapatkan syafa’at dari anaknya untuk masuk ke surga.
Nabi bersabda: “Bahwasanya dikatakan kepada anak-anak muda pada hari kiamat: ‘Masuklah kalian ke surga!’ Mereka menjawab: ‘Ya Rabbku, sampai bapak-bapak dan ibu-ibu kami juga masuk.’ Maka Allah berkata: ‘Mengapa aku melihat kalian enggan masuk, masuklah ke surga.’ Mereka berkata: ‘Ya Allah, bapak-bapak kami dan ibu-ibu kami.’ Maka Allah berkata: ‘Masuklah kalian dan bapak-bapak kalian ke surga.’”7
- Kecemburuan para bidadari terhadap para suami yang disakiti oleh istrinya.
Nabi bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya dari para bidadari akan berkata: ‘Jangan kamu ganggu dia, semoga Allah memerangimu, ia hanya singgah sebentar di sisimu dan hampir-hampir akan berpisah denganmu menuju kami!’”8
- Suami yang berakhlak dan bermuamalah dengan baik terhadap keluarganya termasuk sebaik-baik mukmin.
Nabi bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku di antara kalian.”9
- Bagi para bapak atau suami yang ditinggal mati anaknya kemudian bersabar maka ia akan menjadi penghalang baginya dari neraka.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang muslim mempunyai tiga anak perempuan lalu ia menafkahinya sampai ia baligh atau meninggal kecuali akan menjadi penghalang baginya dari neraka.”10
- Seorang suami yang adil terhadap keluarganya akan mendapatkan kecintaan dan kemuliaan di surga Allah.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Hujurat: 9)
Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan ar-Rahman (Allah) Azza wa Jalla-dan kedua tangan-Nya adalah kanan-yaitu orang-orang yang berbuat adil di dalam hukumnya, keluarganya dan dalam pengurusannya.” (HR. Muslim 4825)
Wallahul Muwaffiq.
Sumber: Majalah al-Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-3, Sya’ban 1430H
- HR. Bukhari 3331 dan Muslim 1468 [↩]
- al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 19/55 [↩]
- HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 19/129. Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib 1692 [↩]
- HR. Bukhari 2742, Muslim 1628 [↩]
- HR. Muslim 1006 dan Abu Dawud 1286 [↩]
- HR. Ahmad 2/250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 625 [↩]
- HR. Ahmad 4/105. Al Haitsami berkata: rijalnya tsiqah [↩]
- HR. at-Tirmidzi 1184, Ibnu Majah 2014, Shahih at-Targhib 1945 [↩]
- HR. Ibnu Hibban 1312, Shahih at-Targhib 1924 [↩]
- HR. Ahmad 49/36, Shahih at-Targhib 1972 [↩]
| Print article | This entry was posted by admin on 29/07/2010 at 2:08 pm, and is filed under Keluarga. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |